Punk dan Islam, ternyata punya irisan. Punk merupakan aliran musik yang lahir karena ketimpangan sosial di masyarakat. Komunitas punk adalah simbol perlawanan generasi 70-an terhadap kemerosotan moral sebagai akibat kemajuan dan kesejahteraan yang didominasi pemiliki modal. Kritik kemudian dibangun melalui musik dengan ciri khas distorsi musik keras dan cepat serta dibalut lirik yang intinya menghujat.

Sedangkan Islam lahir di tengah kemerosotan moral masyarakat kala itu. Nabi Muhammad SAW melalui Alquran dan Hadis menjadi wujud pembaharuan dan perbaikan keseluruhan sendi-sendi masyarakat yang bobrok.
Lantas bagaimana bila keduanya disatukan? Sebut saja istilah punk Muslim atau punk Islam. Awalnya memang terlihat main-main. Nyatanya, dua konsep ini bisa digabungkan dalam bentuk yang harmonis dan saling mengisi.
Pertanyaan selanjutnya, apakah ada kelompok musik dengan ide gila menyatukan dua hal tadi? Tentu saja ada, bahkan telah menjadi komunitas punk dan kini tengah menjadi pembicaraan warga AS. Nama komunitas punk tersebut adalah Taqwacore.
Taqwacore punya sejarah unik saat kelahirannya. Andai saja novel berjudul Taqwacore tidak muncul ditahun 2003, bisa jadi komunitas ini tidak pernah lahir dan eksis. Taqwaqore merupakan nama komunitas punk yang memadukan Islam, Timur Tengah dan punk.
Secara harfiah, Taqwacore terdiri dari dua suku kata yaitu taqwa dan core. Taqwa dalam Islam adalah ajaran yang mewajibkan seorang Muslim menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sedangkan core merupakan istilah familiar dalam komunitas punk. Core tidak memiliki arti harfiah namun identik dengan musik cadas.
Singkat cerita, kelompok musik punk asal Pakistan tengah menjalani rangkaian tur di AS. Kelompok musik tersebut juga menyertakan kelompok musik lain seperti Hezbollah, band punk asal Iran, Secret Trial Five, band Punk asal Pakistan dan Al-Thawra, band punk yang juga asal Pakistan. Seolah berjodoh, ketiga personel dari ketiga band tersebut, Koroush Poursalehi (Hezbollah), Sani (The Secret Trial Five) dan Marwan Kamel (Al Thawra) bertemu dengan mualaf Michael Knigt yang kemudian menambahkan nama Muhammad di tengah namanya setelah masuk Islam.
Michael Muhammad Knight kala itu menerbitkan novel berjudul The Taqwacores, terbit tahun 2003. Novel tersebut berisi kisah fiksi tentang para rocker punk yang menjalankan Islam sesuai kehendak hatinya. Ketika novel itu ditulis, Knight seorang mualaf yang tengah kecewa dengan agama barunya.
Novel itu terjual 15 ribu kopi di seluruh dunia, termasuk di Texas. Di wilayah itu seorang remaja keturunan Persia, Kourosh Poursalehi, membaca buku itu dan mengira tokoh-tokoh dalam novel tersebut nyata. “Saat membaca novel itu saya merasa aneh, ternyata bukan saya seorang yang mengalami hal seperti ini. Ternyata ada anak lain di luar sana yang bermain musik seperti ini,” ungkapnya kala itu
Usai membaca novel tersebut Poursalehi mengambil secarik puisi dari halaman pertama buku itu yang berjudul “Muhammad Seorang Rocker Punk”, dan menggabungkannya dengan musik. Dalam satu bait puisi itu berbunyi, “Muhammad seorang rocker punk. Ia meruntuhkan segalanya.” Poursalehi mengirimkan puisi versi musiknya kepada pengarang The Taqwacores, yang kemudian memberikannya kepada seorang musisi muda di Boston, Shahjehan Khan.
“Saya sangat merasa bersalah karena beranjak dewasa tanpa melakukan hal-hal yang benar, tidak menjadi Muslim yang baik, atau menjadi anak Pakistan yang baik. Setelah membaca buku itu saya menjadi yakin bahwa kebingungan itu, dan mungkin kekecewaan itu, adalah normal. Dan banyak orang mengalami hal itu, dan itu bukanlah hal yang keliru,” ungkap Khan jujur.
Khan memiliki pengalaman yang sangat buruk terkait pristiwa 9 September 2001. Saat itu, Khan tersudutkan oleh sesuatu yang tidak pernah ia lakukan. Ia pun merasa teman-temannya memperlakukan dirinya secara tidak adil. “Hei, apa yang orang-orangmu lakukan. Dan saya tidak tahu harus menjawab apa,” kenangnya.
Dengan posisi terdesak dan tertekan, rasa frustasi Khan tersalurkan dalam sebuah band bernama The Kominas. Band ini didirikan Khan bersama temannya, Basim Usmani. Namanya The Kominas, menjadi salah satu band yang pertama dibentuk, seperti dalam dalam cerita Taqwacore. The Kominas memperkenalkan diri dengan lagu berjudul “Hukum Syariah di AS”. Lagu itu mengkritik hukum USA Patriot Act.
Seiring sejalan, komunitas punk Taqwacore terbentuk. Setelah pertemuan mereka dalam tur perdana, makin banyak band Taqwacore bermunculan. Mereka pun membuat agenda festival musik South by Southwest yang berjalan setiap bulan Maret. Kini, dua buah film sedang digarap mengenai Taqwacore.  Disusul pula dengan penulisan buku dan fotografi.
Anak-anak Taqwacore memang jauh dari kesan seorang Muslim. Seperti halnya komunitas punk yang lain, Taqwacore menampilkan ciri khas mereka dengan gaya yang liar, mengkritik dunia Timur dan Barat, dan berpakaian seadanya.
Meski begitu, selama perjalanan tur mereka juga tidak berhenti untuk melakukan shalat lima waktu. “Saya mendapat (celaan) dari banyak orang. Saya mendapati orang-orang neo-konservatif berkomentar di blog mereka,  Saya tidak sedang merusak Islam. Saya sedang berusaha agar Islam menjadi mungkin dalam kehidupan saya,” kata dia
Iklan