SATUAN KREDIT SEMESTER atau yang lebih kita kenal dengan SKS adalah satuan waktu yang digunakan untuk menyatakan besarnya beban studi mahasiswa, besarnya pengakuan atas keberhasilan usaha dan kumulatif bagi satuan program tertentu. (Pedoman Akademik Mahasiswa TA 2006/07 hal 6).
Dari buku pedoman akademik pula, dijelaskan arti SKS, yaitu :
a. Memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menyelesaikan studinya dalam waktu yang ditentukansesuai dengan kemampuan.
b. Memberi kemungkinan penyesuaian – penyesuaian kurikulum dengan perkembangan ilmu dan teknologi.
c. Memberi kemudahan pengalihan kredit antar program studi antar fakultas dalam satu perguruan tinggi atau antar perguruan tinggi lainnya.
d. Memberi kemungkinan agar sistem evaluasi kemajuan belajar mengajar dapat diselenggarakan dengan baik.

Nilai kredit praktikum, tugas akhir, dan kerja lapangan :
1. Nilai 1 SKS praktikum adalah kegiatan terjadwal di laboratorium selama 2 jam setiap minggunya selama satu semester yang diiringi oleh sekitar 1 – 2 jam kegiatan terstruktur dan sekitar 1-2 jam kegiatan mandiri.
2. Nilai 1 SKS untuk kegiatan lapangan atau sejenisnya adalah beban tugas di lapangan sebanyak 4-5 jam/minggu selama 1 semester termasuk kegiatan iringannya.
3. Nilai 1 SKS untuk penelitian dan penyusunan tugas akhir atau skripsi adalah beban tugaspenelitian dengan 3-4 jam sehari selama 1 bulan termasuk kegiatan iringannya yang dianggap setara dengan 25 hari kerja.

Nah, dari pengertian yang telah kami sebutkan di atas (yang diambil dari Buku Pedoman Akademik Mahasiswa tahun akademik 2006/2007 Universitas Setia Budi halaman 6-7), sudah nampak lah keuntungan sistem SKS ini.

Berbeda dengan cara kuliah zaman dahulu, yang konon katanya menggunakan sistem kenaikan tingkat. dengan sistem kenaikan tingkat, jika ada satu mata kuliah yang gagal, kita diwajibkan mengulang 1 semester atau bahkan 1 tahun. Walahhh, pasti capek kan, sudah menghabiskan budget, usia juga kian menjadi masalah. Untuk kita – kita mahasiswa S1 Farmasi angkatan 2006 dan sebelumnya, yang menggunakan kurikulum 1997, maka kita diwajibkan menghabiskan 150 SKS!

Walaupun nampaknya jumlahnya cukub banyak, namun itu terbagi ke dalam 8 semester yang ada. Jadi kita tidak perlu khawatir.

Kembali ke yang tadi. Di jaman dulu, kalau gagal kan harus ngulang lama. Nah, dengan sistem SKS ini, ketika gagal (tidak lulus) kita hanya perlu mengulang mata kuliah yang tidak lulus tersebut. Lebih cepat kan?

Selain itu, kita juga bisa “mengambil” mata kuliah di tingkat atas atau bawah, sesuai dengan ketentuan – ketentuan yang berlaku. Salah satu ketentuan yang paling utama yang wajib kita ketahui adalah batasan – batasan pengambilan SKS pada waktu Her Registrasi, yakni (menurut BUKU PEDOMAN AKADEMIK MAHASISWA TA 2006/2007 :
1. Jika IP 3,00 maka SKS yang diperbolehkan 24
2. Jika IP 2,50 maka SKS yang diperbolehkan 20
3. Jika IP 2,00 maka SKS yang diperbolehkan 18
4. Jika IP 1,60 maka SKS yang diperbolehkan 15
5. Jika IP 1,20 maka SKS yang diperbolehkan 12

Namun dalam KRS yang terbaru termuat :
1. Jika IP 3,00-4,00 SKS maksimal yang boleh diambil semester berikutnya 24
2. Jika IP 2,50-2,99 SKS maksimal yang boleh diambil semester berikutnya 22
3. Jika IP 2,00-2,49 SKS maksimal yang boleh diambil semester berikutnya 20
4. Jika IP 0,00-1,99 SKS maksimal yang boleh diambil semester berikutnya 18

Dari data tersebut, kita ketahui bahwa regulasi baru yang dimiliki oleh USB lebih menguntungkan, dengan IP kurang dari 2, kita sudah diperbolehkan mengambil sampai 18 SKS. Bandingkan jika IP kita hanya 1,11 ketika menggunakan regulasi lama!

Dengan sistem SKS ini, kita bisa merencanakan kegiatan studi kita dengan target – targen tertentu dan dengan bimbingan dan persetujuan Pembimbing Akademik (PA) kita. Misalnya, jika kita ingin mengejar waktu kuliah cepat (ikut wisuda kecil di bulan April), kita bisa mengambil SKS yang lebih banyak.

Namun, terkadang mahasiswa hanya ingin mengejar waktu (dan biaya yang lebih murah tentunya) dengan mengambil SKS yang banyak, padahal tidak mempunyai kemampuan untuk itu. Banyak mahasiswa yang ketika mengambil mata kuliah tingkat atasnya ditanya mengapa kok mengambil mata kuliah tersebut, dia menjawab dengan entengnya : “biar murah, sebelum tarif SKS naik lagi”. Memang betul yang demikian, untuk angkatan 2006 dan setelahnya, ada kemungkinan kenaikan harga, tapi sudahkah dipikir matang – matang resiko yang akan dihadapi?? Apakah kita juga sudah memikirkan tentang kemampuan kita?? Coba deh, tengok kembali tentang nilai 1 SKS praktikum dan yang lainnya yang telah kami sebut sebelumnya. Jadwal kita tentu akan padat jika kita mengambil terlalu banyak SKS. Jumlah SKS yang tertera pada buku pedoman akademik tersebut sudah dirancang sedemikian hingga kita bisa tidak terlalu lelah kuliah, sehingga kita bisa belajar mandiri dengan waktu yang optimal.

Mengingat nasihat yang diberikan bapak Prof. Sasmito ketika mengajar kami di Semester Pendek yang lalu. Beliau menasihatkan kita agar memperhatikan kemampuan kita, sehingga tidak mengambil terlalu banyak SKS. Dengan SKS yang sedikit, kita bisa mengurangi kesibukan kita, sehingga diharapkan hasil juga akan lebih bagus. Artinya begini, ketika IP kita hanya 2,85 misalnya, kita diperbolehkan mengambil 22 SKS. Namun, alangkah baiknya kita mengambil yang kurang dari itu, misalnya 20 saja. Dengan SKS yang berkurang, kesibukan di kampus juga berkurang, diharapkan kita bisa mendapat hasil yang lebih bagus.

Hal tersebut jauh lebih baik, daripada jika kita memaksakan untuk mengambil 22 SKS, atau malah nekat cari dispensasi mengambil 24 SKS. Hal yang seperti itu dikhawatirkan tidak sesuai dengan kemampuan kita. Andai khawatir kita terlalu lama lulus kalau hanya mengambil sedikit SKS, toh kita juga masih bisa ikut SP. Enak kan?

Jadi, daripada kita ngambil SKS banyak-banyak terus nggak lulus atau nilai cuman berkisar antara C dan D dan harus ngulang, lebih baik kita ambil sedikit SKS atau sesuai dengan “paket” SKS tiap semester dengan nilai A dan B. Lebih murah mana hayo??

Selain itu, waktu belajar mandiri kita juga akan lebih optimal jika kita tidak terlalu lelah kuliah di kampus dan praktikum di lab. Toh paling – paling kita juga cuman ngantuk kalau kelelahan kuliah, materi yang disampaikan dosen juga tidak bisa diserap secara baik. Sayang kan dana 90ribu / SKS tersebut.

Terakhir, saran dari kami, agar temen – temen semua tidak terlalu “rakus” memngambil SKS semester atas, jikalau merasa diri kita tidak mampu.

Sumber : http://tetieco.wordpress.com/2009/02/04/keuntungan-sistem-sks-jangan-disia-siakan/

Iklan