Euforia nasionalisme dan patriotisme (cinta tanah air) bangsa Indonesia seakan meledak-ledak ke permukaan tatkala kita merayakan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI dari tahun ke tahun. Mulai dari RT/RW, desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota, propinsi hingga istana negara, gedung-gedung sekolah, kampus, kontrakan, pertokoan, tempat-tempat keramaian umum termasuk rumah-rumah penduduk terpancang umbu-umbul warna warni yang mencuar-cuar ke langit menghiasi wajah tanah air ini. Sayangnya nuansa ini tak dibarengi lagu-lagu perjuangan dan nasional yang menggelegar di mana-mana. Kecuali di lingkungan sekolah. Para siswa sering melantunkan kembali lagu-lagu wajib seperti: Dari Sabang Sampai Merauke, Maju Tak Gentar, Rayuan Pulau Kelapa, Bangun Pemuda Pemudi, dll. Musik gaul, lagu-lagu kelompok band sekarang cenderung menjadi favorit kaum remaja Indonesia masa kini. Pada 9 Juni 2004, seorang musikus Indonesia era pra kemerdekaan telah meninggalkan dunia di Jakarta. Dialah Mutahar yang nama lengkapnya Husein Mutahar, kelahiran Semarang 5 Agustus 1916. Beliau adalah pencipta lagu Himme Syukur dan mars Hari Merdeka yang merupakan lagu-lagu wajib nasional. Kepergian almarhum ini memang nyaris tersaput oleh gegap gempita kampanye pemilihan Presiden. Publik pun tak banyak tahu siapa gerangan Mutahar itu. Tempo edisi 14-20 Juni 2004 menurunkan rubrik khusus obituari mengiringi kepergian Mutahar dengan judul “Mutahar Sudah Merdeka”. Ia dilukiskan sebagai seorang pribadi yang santun, jujur dan cerdas. Inilah prototipe kelom­pok muda intelektual Indonesia umum-nya era pra kemerdekaan yang memiliki ciri-ciri kecerdasan tinggi. Mereka rata-rata menguasai bidang matematika, sejarah, bahasa, musik, dan sastra. Memiliki mental berdisiplin tinggi, taat aturan, punya standar moral dan patriotisme hingga akhir hayat mereka. Karakteristik ini juga ada dalam diri seorang Mutahar. Jejak langkah beliau mencerminkan keterlibatan dan dedikasinya dalam hidup berbangsa dan bernegara. Sebagai seorang “pelayan negara” (civil servant) ia berkecimpung di bidang pemerintahan, kemasyarakatan, diplomasi dan lebih khusus lagi di bidang komposisi lagu-lagu yang bernafaskan nasionalisme dan patriotisme, pendidikan (lagu anak-anak dan pramuka). Ia pernah menjadi pelopor kepanduan bangsa Indonesia pada masa pra kemerdekaan yang kalau itu lazim disebut Pandu Rakyat Indonesia. Dari sinilah, dalam kiprah kepanduan Indo­nesia selanjutnya, lahir nama baru “Pra­muka” (praja muka karana). Berbagai jabatan yang pernah diemban H Muta­har menunjukkan bahwa ia adalah seo­rang abdi negara sejati yang punya kredibilitas, dedikasi dan akuntabilitas (istilah yang marak dipakai pejabat-pejabat era reformasi sekarang ini) disertai ketulusan, kesederhanaan, kerendahan hati dan keindahan (seni musik). Lagu Syukur yang termasuk jenis la­gu himne (gita puja), pujian kepada Tuhan, merupakan lagu pertama ciptaan Mutahar dan untuk pertama kalinya diperkenalkan kepada khayalak ramai pada Januari 1945. Itu berarti beberapa bulan menjelang Proklamasi RI (17 Agustus 1945) yang diumumkan oleh Soekarno-Hatta, Mutahar ingin mengungkapkan magnifikasi (pernyataan pujian) yang agung ke seluruh penjuru tanah air lewat lagu Syukur itu. Tembang dengan syair yang bernuansa magnificant ini mau menegaskan kepada kita bahwa tanah air Indonesia yang sebentar lagi akan merdeka ada­lah sebuah karunia Tuhan: “Dari yakinku teguh, hati ikhlasku penuh, akan karuniaMu Tanah air pusaka, Indonesia Mer­deka, syukur aku sembahkan ke hadirat-Mu Tuhan”. Makna yang dalam serta nilai musikal yang kuat dalam lagu himne Syukur ini seringkali membuat banyak orang terenyuh dan terpesona bahkan mencucurkan air mata ketika dinyanyikan kelom­pok paduan suara dengan penuh penjiwaan. Tak heran lagu berwatak serindai ini selalu menjadi salah satu lagu utama (prime song) pada parade lagu-lagu perjuangan perayaan 17 Agustus atau hari besar nasional lainnya. Wawasan kebangsaan dan tema ke­merdekaan selalu terdepan dalam de-rap perjuangan bangsa Indonesia ma­sa pra kemerdekaan. Itulah sebabnya seorang Mutahar tahu betul dan yakin bahwa tanpa pengorbanan putra-putri terbaik bangsa (para pahlawan) di medan perang, niscaya kemerdekaan itu berhasil direngkuh dan direbut dari tangan    penjajah    sebagaimana    ia deraskan pada bait kedua: “Dari yakinku teguh, cinta ikhlasku penuh, akan jasa usaha Pahlawanku yang baka, Indonesia Merdeka, syukur aku hunjukkan, ke bawah duli tuan.” Dia menutup syair-syair lagunya itu dengan sebuah apresiasi pada Gerakan Pramuka Indonesia, Ia melihat institusi kepramukaan itu tidak sekadar sebuah organisasi pemuda/i tapi lebih dari itu sebuah model perjuangan bang­sa menuju kemerdekaan dengan satu prinsip perjuangan yaitu kerukunan: “Dari yakinku teguh, bakti ikhlasmu penuh, akan azas rukunmu. Pandu bangsa yang nyata, Indone­sia merdeka, Syukur aku hunjukkan, ke hadapanmu tuan” Lagu-lagu Indonesia masa sebelum kemerdekaan masuk kategori musik perjuangan dengan penekanan pada aspek sosial dan politik, berbicara ten-tang identitas dan kesatuan bangsa, merefleksi kembali fase-fase berat ma­sa lalu, bertutur tentang korban berjatuhan di medan perang. Jadi terminologi untuk musik/lagu-lagu perjuang­an masa itu disebut “musik fungsional” atau “musik berguna” dengan tujuan utama pada makna dan isi teks, mudah dicerna, gampang dinyanyikan oleh semua lapisan masyarakat. Di tahun 1946 Mutahar berhasil menggubah lagu mars Hari Kemerde­kaan yang berkarakter brio (bersemangat) sehingga selalu dinyanyikan de­ngan semangat pula (con brio). Sedang-kan judul-judul seperti Gembira, Tepuk Tangan Silang-silang, Mari Tepuk, Slamatlah, Jangan Putus Asa, Saat Berpisah dan Pramuka adalah deretan lagu anak-anak ciptaan Mutahar. Inilah sosok seorang Mutahar. Potret musikus ulung yang rada tenggelam dalam keruwetan negeri ini. Ketika bangsa ini merayakan usia emas 50 tahun (1995) sekali lagi ia diberi kepercayaan oleh pemerintah pusat untuk menggubah lagu khusus yang berjudul “Dirgahayu Indonesiaku”sebagai lagu resmi ulang tahun kemerdekaan ke-50 RI. Inilah karyanya yang terakhir sebe­lum ia tutup usia. Mutahar memang telah tiada, namun lagu-lagunya akan hidup sepanjang masa, sebab itulah hakekat seni ‘ars longa, vita brevis” kata adagium Latin.*** [dikutip dari  Willem B Berybe Guru SMAK Giovanni Kupang]

Iklan